PSIM Store Makin Menggeliat

PSIM Store Makin Menggeliat

PSIM Yogyakarta pantas berbangga dengan hadirnya store yang semakin menggeliat. PSIM store yang menjual merchandise klub berjulukan Laskar Mataram ini menunjukkan kemajuan yang sangat positif bagi klub.

PSIM store yang berlokasi di kompleks Wisma Soeratin atau PSIM, kini menjadi rujukan bagi para suporter baik Brajamusti, Mataram Independen, atau masyarakat pecinta sepak bola di Kota Yogyakarta. Setiap harinya PSIM store tidak pernah sepi dari pengunjung.

Baru dibuka pada 22 April lalu, PSIM store sudah mampu membukukan omzet penjualan merchandise mencapai Rp500 juta, sebuah angka yang wah untuk ukuran tim Liga 2. Berbagai item produk yang dijual PSIM, laku keras.

Mulai dari jersey pemain, baik untuk latihan maupun pramusim, jam dinding, topi, hingga syal laris manis terjual. Lebih dari seribu kaus resmi PSIM ludes terjual. Sementara untuk jersey pramusim terjual 500 buah yang saat ini sudah masuk pembuatan edisi kedua.

“Hampir dua bulan store ini berdiri dan omzet penjualan sekitar Rp500 juta. Mungkin karena euforia manajemen baru dalam membawa semangat baru juga berpengaruh. Betul-betul dikelola PSIM, sehingga suporter tentu ingin serta berkontribusi,” ujar divisi merchandise PSIM Yogyakarta, Rio Sadewa, saat ditemui Bola.com di PSIM Store, Kamis (13/6/2019).

Hal ini membuat CEO PSIM, Bambang Susanto cukup terkejut dengan tingginya animo masyarakat pecinta PSIM Yogyakarta dalam membeli produk resmi klub. Menurutnya, keberadaan store memang menjadi bagian era baru industri sepak bola Indonesia. Klub tidak hanya bergantung dengan pemasukan dari tiket pertandingan.

“Target kami ke depan adalah memiliki 100 jenis produk yang dijual resmi oleh PSIM. Ini baru langkah awal karena rencana kami adalah punya megastore di kompleks Stadion Mandala Krida. Setidaknya terinspirasi dari apa yang dimiliki Bali United. Semoga impian kami tercapai,” terang Bambang Susanto.

Sementara mengenai sponsor timnya, Bambang Susanto mengaku jika PSIM butuh waktu untuk menggaet partner. Masih butuh proses yang panjang untuk mendapatkan dukungan sponsorship yang skalanya besar. Menurutnya, PSIM baru memasuki fase awal menuju pengelolaan yang benar-benar profesional.

“Sponsor memang menjadi kesulitan kami untuk saat ini karena dengan waktu yang pendek saat takeover PSIM, dalam 2-3 bulan terakhir. Selain itu juga kami sibuk dengan proses merekrut pemain. Artinya, bentuknya belum mencapai semuanya,” kata pengusaha asal Semarang ini.

“Sponsorship memang menjadi target kami di musim depan. Sponsor pasti ingin mendapatkan benefit. Jadi perlu ada pembuktian dulu dari PSIM. Setidaknya bisa masuk ke Liga 1 terlebih dahulu,” urai Bambang Susanto.

detiksport

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *